Harga Berdasarkan Biaya Marginal

Penetapan Harga berdasarkan biaya diferensial (differential cost pricing), juga disebut penetapan harga berdasarkan biaya marjinal (marginal Cost Pricing) memusatkan perhatian pada biaya tetap dan laba yang diperoleh dari pesanan tambahan. Metode ini menambahkan MarkUp kepada biaya diferensial. Disamping itu biaya diferensial dari suatu pesanan sama dengan kenaikan total biaya yang disebabkan oleh produksi unit-unit tambahan. Penetapan harga ini memperhitungkan baik biaya tetap maupun variabel sebagai biaya diferensial sebelum ditambahkan dengan markup dan cara ini cocok untuk situasi tertentu, khususnya yang bersifat jangka pendek.

Perusahaan secara tepat dapat menggunakan teori penetapan harga berdasarkan biaya diferensial dan biaya variabel ketika menghadapi masa-masa sulit dan pasti menghasilkan laba bila penerimaannya melampaui biaya variabel atau diferensial. Terkadang perusahaan/organisasi dapat menetapkan harga yang berbeda untuk pelanggan yang berbeda. Hal ini disebut sebagau diskriminasi harga (jenis diskriminasi ini tidak berdasarkan pada ras atau jenis kelamin tetapi berdasarkan elastisitas permintaan dan merupakan sesuatu yang sebenarnya bagus). Contohnya maskapai penerbangan A, jika sebuah pesawat akan terbang dari Jakarta ke Surabaya dan biaya rata-ratanya untuk penerbangan itu per pelanggan adalah Rp 500.000,00 , maka maskapai penerbangan A itu tidak akan membiarkan seorang konsumen membeli dengan harga Rp 250.000,00, kan?

Mungkin seharusnya, jika ada sebuah kursi yang kosong di pesawat tersebut dan seorang konsumen tidak akan terbang dengan harga diatas Rp 250.000,00, maka maskapai penerbangan A akan mendapatkan kenaikan profit dengan membiarkan seorang konsumen membeli dengan harga dibawah biaya rata-rata. Keuntungan mereka akan naik jika pendapatan marginal yang mereka peroleh (harga yang konsumen tersebut bayar sebesar Rp 250.000,00) lebih besar dari biaya marjinal untuk membiarkan seorang konsumen terbang dengan harga Rp 250.000,00. Apa saja yang akan menjadi biaya marjinal jika membiarkan seorang konsumen dengan membayar Rp 250.000,00 terbang di pesawat mereka? mungkin biaya sebesar lima puluh ribu untuk menangani bagasi, sepuluh ribu untuk mencetak tiket,dan lima puluh ribu untuk makan dan minum. Jadi dengan menambahkan konsumen tersebut untuk penerbangan Jakarta –Surabaya , biaya penerbangan naik sebesar Rp 110.000,00. Jika tidak ada orang lain yang akan membeli kursi tersebut dan konsumen tersebut bersedia untuk membayar lebih dari Rp 110.000,00 untuk terbang dengan maskapai penerbangan A, mereka akan meningkatkan keuntungan mereka dengan menjual tiket Rp 250.000,00.

Contohnya lagi adalah sebuah universitas. Fokus ke kemampuan universitas untuk menetapkan biaya pendidikan tinggi adalah reputasi untuk memiliki siswa yang cerdas. Menerima siswa berkemampuan rendah yang bersedia membayar biaya kuliah penuh dapat meningkatkan pendapatan sebuah universitas saat ini tapi bisa merusak reputasi sekolah dan penurunan pendapatan dalam jangka panjang. Dapatkah universitas mendapatkan siswa yang berkualitas cukup tinggi yang bersedia untuk membayar biaya kuliah penuh untuk mengisi semua kursi di kelas mahasiswa nya? Atau haruskah menerima mahasiswa yang kurang berkualitas, tetapi bersedia membayar biaya kuliah penuh (walaupun hal ini mungkin menurunkan reputasi sekolah dan kemampuan untuk mengumpulkan siswa yang berkualitas di masa depan)? Atau haruskah universitas menerima siswa yang berkualitas tinggi namun tidak mampu membayar biaya kuliah penuh? Berapa biaya marjinal untuk menambahkan lagi seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi? Rp 500.000,00 untuk kamar dan makan, Rp 100.000,00 untuk menggunakan perpustakaan. Jadi biaya marjinal menambahkan seorang siswa adalah Rp 600.000. Jika universitas tidak dapat menemukan cukup siswa berkualitas tinggi yang bersedia untuk membayar uang sekolah secara penuh, maka universitas dapat meningkatkan “keuntungan” nya dengan menerima siswa yang bersedia untuk membayar lebih dari Rp 600.000. Sistem ini bekerja jika hal-hal berikut adalah benar. Jika perusahaan memiliki kekuasaan monopoli untuk beberapa pelanggan mereka, dan pelanggan ini berbeda dalam hal kesediaan untuk membayar, dan jika pelanggan tidak bisa menyembunyikan tipe pelanggan seperti apa mereka dan membeli dengan harga yang lebih rendah (atau alternatifnya, pelanggan yang membeli di harga rendah tidak bisa berbalik dan menjual barang dengan harga tinggi), maka perusahaan mungkin ingin terlibat dalam diskriminasi harga (menetapkan harga berbeda untuk pelanggan yang berbeda). Dalam hal ini, perusahaan akan terlibat dalam marginal cost pricing (perusahaan dapat menetapkan harga kurang dari biaya rata-rata produksi, selama perusahaan mendapatkan setidaknya sebanyak biaya produksi untuk unit produk yang “marjinal”) dan harga elastisitas (menetapkan harga lebih untuk pelanggan yang memiliki kemauan yang lebih besar dan kemampuan untuk membayar).

Terjemahan (dengan beberapa modifikasi) dari: http://www.faculty.econ.northwestern.edu/faculty/witte/B01/handouts/bmcprice.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s